Mari Kita Pilah Sampah!
Masalah sampah di dunia adalah masalah darurat yang seperti tidak ada ujungnya. Alasannya sederhana, yaitu karena sampah adalah sesuatu yang selalu dihasilkan oleh semua orang di dunia ini, setiap detik, setiap menit. Masih banyak yang belum sadar akan dampak buruk sampah pada kesehatan dan pada lingkungan.
Tahukah kamu? Indonesia telah menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Tentunya hal tersebut tidak dapat dibanggakan oleh negara kita dan merupakan hal yang memalukan. Bagaimana bisa negara tercinta kita menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar dunia? Eits, jangan salahkan pemerintah melulu, mari kita introspeksi diri terlebih dahulu. Coba pikirkan deh, berapa ya sampah yang aku hasilkan hari ini? Aku sudah membuang semua sampah itu pada tempatnya atau belum ya? Aku sudah usaha apa ya untuk menangani sampah-sampah itu? Pertanyaannya memang biasa saja, tetapi pasti kebanyakan dari kalian bingung mau menjawab bagaimana.
Apabila pemerintah belum bergerak cepat dalam menangani sampah, mungkin masyarakat Indonesia dapat memulai penanganan itu dari diri sendiri. Namun pastinya, perubahan tersebut tidak akan menjadi kenyataan jika hanya diikuti oleh segelintir orang saja. Kita butuh sebuah kesadaran kolektif demi bisa meminimalisir permasalahan sampah yang sudah terlanjur menggunung.
Dalam menangani sampah ini terdapat berbagai opsi, salah satunya adalah memilah sampah yang telah kita hasilkan. Pengelolaan sampah dengan memilah sampah dari awal menjadi pilihan yang baik untuk dapat pengelolaan berkelanjutan yang baik untuk lingkungan dan bumi. Pemilahan sampah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, atau sifatnya. Tujuan pemilahan sampah yaitu untuk mempermudah pengolahan sampah selanjutnya, mengurangi pencemaran, menambah nilai ekonomi dari hasil sampah yang terpilih. Pemilahan sampah bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai. Waktu penguraian sampah organik tergolong cepat sesuai dengan jenis, tekstur, dan komposisi dari sampah organik tersebut. Sampah organik yang dikelola dengan baik dapat membawa banyak manfaat bagi lingkungan sekitar terutama tumbuhan jika dikelola dengan baik. Namun bila sampah tersebut tidak dikelola dengan benar akan dapat menimbulkan penyakit dan bau yang kurang sedap hasil dari pembusukan sampah organik yang cepat.
Jenis sampah organik dibagi menjadi dua, yaitu sampah organik basah dan kering. Sampah organik basah merupakan sampah organik yang banyak mengandung air. Sampah organik basah contohnya adalah sisa sayur, kulit pisang, buah yang busuk, kulit bawang, limbah/kotoran hewan ternak dan sejenisnya. Sampah organik kering merupakan sampah yang mengandung sedikit air. Contoh sampah organik misalnya kayu, ranting pohon, kayu dan daun–daun kering. Kebanyakan sampah organik sulit diolah kembali sehingga lebih sering dibakar untuk memusnahkannya. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau pupuk organik, pakan ternak, bahan untuk biogas dan sumber listrik, dan sebagainya.
Sampah anorganik merupakan sampah yang berasal dari bahan sintetis (buatan) yang biasanya berasal dari bahan tambang baik mineral dan non-mineral, serta produk-produk olahannya sehingga sampah jenis ini sangat sulit terurai. Penguraian sampah anorganik dapat memakan waktu ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan tahun.
Jenis sampah anorganik dibagi menjadi dua, yaitu sampah anorganik lunak dan keras. Sampah anorganik lunak merupakan sampah anorganik yang memiliki tekstur lunak dan dapat mudah dibentuk. Sampah anorganik lunak terdiri dari bahan lunak padat seperti styrofoam, bungkus plastik, bahan cair seperti air detergen, minyak goreng, dan air bekas cucian. Sedangkan sampah anorganik keras merupakan sampah anorganik yang memiliki tekstur keras dan tidak mudah dihancurkan karena mengandung bahan yang kuat. Contohnya yaitu pecahan keramik, kaca, paku berkarat, dan bekas kaleng.
Memilah sampah sangat sederhana bukan? Kita tinggal memisahkan/memilah antara sampah organik dan anorganik dan membuangnya di tempat sampah pilah sampah yang telah disediakan. Sayangnya hal tersebut tidaklah mudah. Beberapa orang justru dapat memberikan reaksi marah saat ada yang mengingatkan tentang larangan membuang sampah sembarang ataupun menunjukkan sikap acuh tak acuh ketika diingatkan untuk memilah sampah. Padahal sebenarnya jika kita memilah dan membuang sampah pada tempatnya, sampah tersebut akan lebih mudah dikelola dan diolah. Kita hanya butuh kesadaran diri masing-masing dan saling mengingatkan sesama. Maka dari itu, mari kita pilah sampah yang kita hasilkan, sampahku tanggung jawabku!
Komentar
Posting Komentar